Home » Artikel Pendidikan » Situs Gunung Padang: Peradaban Kuno Yang Menakjubkan

Situs Gunung Padang: Peradaban Kuno Yang Menakjubkan

Saturday, April 13th 2013. | Artikel Pendidikan


Situs Gunung Padang – Nusantara seakan tak pernah habis dengan penemuan-penemuan pada masa prasejarah. Ini membuktikan bahwa bangsa ini merupakan salah satu bangsa yang pernah memiliki peradaban hebat di masanya. Penemuan sebuah situs kuno di gunung Padang yang terletak di desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat kembali menambah khazanah pengetahuan kita akan peradaban kuno di tanah Sunda khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dinamakan gunung Padang yang menurut masyarakat setempat maknanya ialah ‘Gunung Terang” karena di tempat ini sering ada suara – suara musikal kemudian menjadi terang benderang pada malam – malam tertentu. Sebagaimana tempat kuno lainnya, gunung Padang juga dipercaya menyimpan mitos sebagai tempat keramat yang terus dipertahankan secara turun temurun. Di sini dipercaya senagai tempat Prabu Siliwangi yang berusaha membangun istana dalam semalam.

Gunung Padang sendiri bukanlah gunung aktif, tetapi lebih tepat dikatakan sebuah bukit dengan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Awalnya situs gunung ini diperkirakan hanya memiliki luas 0,4 hektar, namun belakangan diketahui luasnya mencapai 15 hektar dan lebih besar dari luas Candi Borobudur yang luasnya 1,5 hektar.

Keberadaaan situs gunung Padang pertama kali tercatat oleh dinas kebudayaan Hindia Belanda tahun 1914 dan tahun 1949 oleh sejarahwan Belanda N.J Krom. Barulah tahun 1979 mulai ada perhatian serius dari pemerintah dengan diadakannya penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeolog Nasional.

Namun sastra Sunda Kuno sebetulnya bisa menjadi rujukan keberadaan situs ini dimana disebutkan oleh seorang Bujangga Manik atau Prabu Jaya Pakuan, seorang ksatria Pajajaran yang pernah menjelajah Jawa dan Bali. Didalam naskah yang ditulis dari daun nipah ini, Bujangga Manik menunjuk tempat “Kabuyutan” atau tempat leluhur Sunda yang berada di hulu Ci Sokan yang kini bisa dipastikan berada di sekitar gunung Padang. Naskah ini kini berada di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford, Inggris sejak tahun 1627 Masehi.

Situs Gunung Padang: Peradaban Kuno Yang Menakjubkan

Situs Gunung Padang

Mungkin orang yang baru mendengar tentang Peradaban Kuno Gunung Padang akan bertanya, Memang ada apa aja sih di situs gunung Padang ini?

Siapapun yang pernah menginjakkan kaki di situs Gunung Padang ini akan dibuat takjub oleh susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs. Di situs ini terdapat beberapa sumber material bangunan yang berkualitas seperti kolom – kolom bebatuan, kemudian batu – batu berbentuk poligonal yang dipasang melintang sebagai anak tangga, juga ada kolom batu yang berdiri membentuk pintu gerbang. Selain itu terdapat pula simbol-simbol religius khas era purbakala, seperti gunung dan samudera.

Warna batu-batu ini sebagian besar berwarna abu – abu gelap berjenis andesit basaltis. Semua arsitek di situs ini diperkirakan dibangun kira – kira 2.000 tahun sebelum Masehi! atau sekitar 2.400 tahun sebelum muncul kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai dan Kalimantan. Bahkan para peneliti dari LIPI menyebutkan hasil dating carbon dari sampel yang diambil pada kedalaman 8 meter dari atas teras kelima, diperoleh usia sampel karbon itu diperkirakan mencapai 11 ribu tahun sebelum masehi! Penemuan terbaru juga menyebutkan ada kemungkinan sebuah ruang kosong di dalam situs.

Jika bangsa Romawi Kuno menganggap angka 7 sebagai angka yang sakral dan bangsa Babylonia menganggap sakral angka 11, maka bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini konon memuja bilangan lima (angka 5). Entah kebetulan atau bukan, beberapa sumber menyebutkan dengan fakta.

Situs Gunung Padang: Beberapa Fakta Menarik Didalamnya

  1. Situs gunung Padang dikelilingi oleh 5 sungai, yaitu: Sungai Cikuta, Panggulaan, Monjong, Emped, dan sungai yang mengalir dari Gunung Karuhun.
  2. Situs gunung Padang dikelilingi oleh 5 gunung, yaitu: Gunung Karuhun di sebelah Barat, sebelah gunung Emed di selatan, kemudian di timur ada gunung Malati, gunung Pasir Malang di timur laut dan gunung Batu di sebelah utara.
  3. Situs gunung Padang pun memiliki 5 teras atau undakan, yaitu: Teras pertama (teras batu gamelan dan masigit/masjid) untuk seni dan ibadah, teras kedua (teras lumbung) untuk penyimpanan padi, teras ketiga (teras batu kursi) untuk tempat musyawarah, teras keempat (teras batu gendong) untuk pernasiban, dan kelima adalah teras singgasana raja.
  4. 95 % batu – batu yang berserakan di puncak gunung Salak pun rata – rata berbentuk prisma segilima.
  5. Situs diperkirakan berasal dari zaman Megalitikum, berusia diantara 2.400 hingga 11.000 tahun sebelum Masehi.

Sebuah pendapat juga kemudian muncul mengenai instrumen musik klasik yang dimulai di situs ini. Beberapa Batu besar yang ada di gunung Padang, jika dipukul dengna batu lain yang lebih kecil maka akan memberikan bunyi berfrekwensi dalam interval 2.500 – 5.000 hz. Ini merupakan range frekuensi bunyi yang masuk dalam kategori bunyi yang bisa kita dengar. Ketika batu – batu ini dipukul sedemikian rupa, akan diperoleh spektrum nada – nada yang sangat unik sekali.

Jadi, mari kita tunggu saja hasil penelitian lebih lanjut dari para ilmuwan kita mengenai temuan unik lainnya yang belum tereksplorasi sepenuhnya dari situs gunung Padang ini.

Demikianlah informasi mengenai Situs Gunung Padang: Peradaban Kuno Yang Menakjubkan. Semoga bermanfaat :-)

Artikel Bahasa Indonesia lainnya mengenai:

TwitterFacebookGoogle+