Home » Artikel Pendidikan » Pinisi: Kapal Layar Tangguh Kebanggaan Indonesia

Pinisi: Kapal Layar Tangguh Kebanggaan Indonesia

Sunday, May 5th 2013. | Artikel Pendidikan


Indonesia memang telah dikenal sebagai negara kelautan. Wajar jika ada pameo yang berbunyi: Nenek Moyangku adalah seorang pelaut. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan salah satu karya seni tinggi yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang kita hingga sekarang yang dikenal dengan kapal Pinisi yang terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.

Pinisi atau (Phinisi) adalah perahu layar yang berasal dari Makassar, SulSel yang sudah sejak nenek moyang terkenal akan pelaut – pelaut handalnya, terutama pada suku Bugis pada ratusan tahun silam. Kapal layar Pinisi telah mengiringi mereka dalam menaklukkan samudera dengan menyeberangi satu pulau ke pulau lain, baik melalui jalur perdagangan maupun sebagai sarana untuk mencukupi kehidupan mereka seperti memancing ikan dan menjaring hasil laut lainnya.

Sebagai salah satu peninggalan nenek moyang yang bernilai tinggi, Phinis mempunyai sejarah yang cukup panjang dengan segala keterkaitannya dengan budaya Suku Bugis di SulSel. Dalam catatan pelayaran dunia, perahu ini tercatat dan disebutkan dalam sejumlah catatan kuno yang terhubung dengan wilayah Timur Nusantara.

Pinisi: Rekor Pelayaran Yang Tercatat

Salah satunya adalah yang ditemukan dalam catatan kuno I La Galigo yang menyebutkan Pinisi sebagai kapal yang membawa Sawerigading, Raja Luwu, pada saat mengarungi samudera menuju negeri China untuk melamar seorang putri Tiongkok, We Cu Dai. Dalam catatan kuno yang diperkirakan berasal dari abad-13 hingga 15 tersebut juga menyebutkan bahwa kapal Pinisi berhasil menempuh perjalanan dari Nusantara ke negeri Tiongkok dengan sukses.

Adapun cerita lainnya yang mengisahkan tentang kehebatan kapal Pinisi ini dengan ditemukannya fakta yang menguatkan adanya perjalanan kapal ini ke Afrika. Kenyataan ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kapal Pinisi di daerah sekitar Madagaskar, Afrika. Meskipun hal ini masih disangsikan oleh sejumlah kalangan yang menganggap kapal tersebut memang sudah dibuat disana. Namun hal tersebut tetap menunjukkan betapa komunitas Suku Bugis di sana yang tinggal dan menetap disana sejak zaman dahulu.

Pembuktian akan ketangguhan kapal layar Pinisi pernah terwujud pada tahun 1986 silam, dimana sekelompok tim ekspedisi pelayaran Pinisi Nusantara melakukan perjalanan dari Jakarta ke kota Vancouver di Kananda dengan diawaki oleh sebagian besar pelaut asal Indonesia. Kapal Pinisi terbukti dapat melalui berbagai medan dengan ombak yang ganas selama perjalanan.

Kapal Pinisi: Ciri Khas dan Keunikan

Keunikan dari Kapal Pinisi ini dapat dikenali dari bentuk design unik khas Sulawesi Selatan. Kapal layar ini mempunyai panjang badan sekitar 10 – 15 m dan memiliki 7 hingga 8 layar besar yang berlainan panjang dan lebarnya. Ada pun dari 8 layar, 2 layar yang berukuran paling besar berfungsi sebagai layar utama dengan bantuan 6 layar kecil (anak layar) lainnya sebagai penyeimbang angin.

Kendati dapat mengarungi lautan dan Samudera dengan tanpa mesin, Kapal Pinisi mampu mengangkut beban hingga 30 ton yang ditopang oleh bahan besi sebagai bahan utama untuk membuat lapisan badan kapal. Berikut adalah beberapa bagian penting pada kapal Pinisi, antara lain:

  • Anjong (segitiga pada depan kapal)
  • Sombala (layar utama kapal)
  • Tanpasere (layar kecil pendukung layar utama, berbentuk segitiga)
  • Cocoro Pantara (layar pendukung pada bagian depan kapal)
  • Cocoro Tangnga (layar pendukung pada bagian tengah kapal)
  • Tarengke (layar pendukung pada bagian belakang kapal)

Kapal Pinisi memiliki 2 jenis yang berlainan dengan nama yang berlainan pula. Yaitu Palari yang memiliki bentuk klasik dengan design khas yang melengkung. Jenis kedua yaitu Lambo yang memiliki bentuk lebih besar dengan dilengkapi oleh mesin penggerak seperti halnya kapal – kapal tanker dan kapal modern lainnya.

Kapal Pinisi: Teknik Pembuatan

Percaya atau tidak, perubahan teknologi tidak merubah teknik tradisional pembuatan kapal Pinisi tidak berubah. Segala teknik turun temurun rakyat Bugis masih dipertahankan untuk menghasilkan kapal Pinisi yang terbukti sangat tangguh di lautan. Adapun daerah di Sulawesi Selatan yang tersohor sebagai daerah penghasil Pinisi adalah Bontobahari.

Kehebatan para perancang dan pembuat kapal Pinisi dapat dibuktikan dengan proses pembuatan kapal mulai dari nol hingga selesai yang tidak memerlukan gambar rancang kerja yang dibuat oleh para arsitek, seperti halnya yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal modern. Para pembuat kapal Pinisi dapat membuat kapal dengan bermodalkan insting, kemahiran dan kecermatan tingkat tinggi yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah sangat berpengalaman serta diturunkan secara turun-temurun. Sama halnya dengan bahan perekat, mereka menggunakan bahan perekat khusus dengan ramuan alami yang hanya diketahui oleh para suku pembuat kapal ini.

Pembangunan kapal Pinisi dilakukan berdasarkan kepercayaan sakral, yaitu hanya dilakukan pada waktu – waktu tertentu, yaitu pada tanggal 5 atau 7 setiap awal bulan. Adapun pada tanggal tersebut diyakini mengandung rezeki yang telah digenggam dan akan terus mengalir. Selain itu, dalam proses pembuatan Pinisi juga diiringi oleh sejumlah filosofi dan upacara sakral yang dipercaya oleh suku setempat. Upacara tersebut umumnya dipimpin oleh pimpinan spiritual yang dipercaya memiliki kapasitas untuk melakukannya atau yang disebut dengan Panrita Lopi.

Umumnya sajian yang ditambahkan dalam upacara hanyalah makanan – makanan kecil serta cemilan – cemilan yang manis. Adapaun upacara tersebut diyakini akan membawa keberkahan bagi pemiliknya. Selain aneka manisan dan cemilan, juga menggunakan darah ayam yang dipercikkan ke lunas perahu, yang diyakini akan menjauhkan pemiliknya dari bencana dan kenaasan pada saat berlayar nantinya. Setelah upacara usai, lunas kapal akan dipotong dan diberkikan kepada si pembuat perahu Pinisi tersebut. Sedangkan potongan lunas pada bagian belakang akan dibuang ke daratan. Upacara ini bermakna bahwa sejauh – jauhnya mereka berlayar, maka akan kembali juga ke kampung halaman. Sama seperti wilayah Nusantara lainnya, seperti Jawa, Kalimantan, Irian, dsb. Kegiatan upacara sakral untuk memulai sesuatu memang masih menjadi ciri khas dan kepercayaan turun – temurun yang unik.

Pembuatan pun terbilang tidak mudah karena memerlukan waktu hampir 1 tahun untuk merampungkannya (9 bulan), mulai dari proses penghitungan, perancangan, pembentukan, pemolesan, hingga pemeriksaan keseluruhan sampai perahu Pinisi siap digunakan.

Perkembangan Pinisi Dari Zaman ke Zaman

Kapal layar Pinisi masih dapat dijumpai di pelabuhan – pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, juga Paotere di Makassar. Pinisi mudah dikenali dengan ciri khas berupa tiang dengan layar tinggi yang menjulang. Pada zaman dahulu, Pinisi digunakan sebagai sarana transportasi dan angkut barang. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kapal layar ini juga digunakan sebagai simbolis kebudayaan dan pariwisata. Seperti yang kerap kita temui di toko – toko cinderamata atau barang antik yang bertema Nusantara, replika atau minatur kapal layar Pinisi cukup mudah ditemui.

Kapal Pinisi ‘versi modern’ juga dimiliki oleh Indonesia dengan dilengkapi oleh berbagai fasilitas mewah selayaknya kapal bintang 5 dengan target para wisatawan asing. Kapal Pinisi ini menempuh banyak perjalanan rute di wilayah pariwisata Nusantara, seperti: Pulau Komodo, Wisata Laut Bunaken, Raja Ampat, juga wisata – wisata eksotik lainnya.

Pinisi

Demikianlah informasi mengenai Pinisi: Kapal Layar Tangguh Kebanggaan Indonesia. Semoga bermanfaat :-)

Artikel Bahasa Indonesia lainnya mengenai:

TwitterFacebookGoogle+Blogger PostWordPressTumblrBagikan
tags: , , ,