Home » Artikel Pendidikan » Museum Etnobotani Bogor & Corak Kehidupan Nenek Moyang

Museum Etnobotani Bogor & Corak Kehidupan Nenek Moyang

Sunday, September 22nd 2013. | Artikel Pendidikan


Museum Etnobotani – Bogor tak hanya menjual wisata Kebun Raya Bogor, dan sensasi panorama alam pegunungan. Kota Hujan ini juga memiliki banyak bangunan museum. Salah satunya adalah Museum Etnobotani Indonesia yang menyimpan hasil kreativitas para nenek moyang suku-suku di Indonesia. Mulai dari pakaian, perkakas rumah tangga hingga kosmetik yang berbahan dasar tumbuhan.

Cahaya lampu temaram, dan suasana hening menyergap saat kaki melangkah masuk ke dalam Museum Etnobotani Indonesia. Di sebuah lorong tampak puluhan siswa SD dari kawasan Petukangan Jakarta Sealatan, duduk melingkar di lantai museum. Sambil mencatat d buku tulis, mereka menyimak informasi yang disampaikan pemandu.

Museum Etnobotani Bogor: Menelusuri Jejak Kehidupan Nenek Moyang

Sesuai namanya, museum Etnobotani menggabungkan antara ilmu botani dan beragam karya budaya etnik Indonesia. Ruang pamer museum ini berbentuk labirin dengan 5 lorong panjang.

Di sepanjang lorong Museum Etnobotani Bogor berjajar etalase kaca yang menyimpan benda koleksi dari berbagai suku pedalaman di Indonesia. Setiap jenis benda yang dipamerkan diberi nama alat, kegunaan, dan informasi nama tumbuhan yang menjadi bahan dasar alat tersebut.

Ada peralatan memasak, topi anyaman, keranjang dan kursi yang terbuat dari daun pandan. Bergeser beberapa langkah terdapat etalase pakaian suku pedalaman di Kalimantan, yang bahannya terbuat dari akar-akar tumbuhan. Ada juga batik yang pewarnaannya menggunakan bahan alami dari tumbuhan.

Kemudian ada benda-benda berbahan dasar lontar di antaranya, wadah air dan alat musik Sasando. Daun lontar ini menjadi pilihan utama suku di Nusa Tenggara Timur, dalam membuat aneka kerajinan tangan, termasuk wadah air dan Sasando. Masih tentang lontar, terdapat replika rumah adat suku Timor yang menggunakan lontar.

Menelusuri lebih jauh tentang Museum Etnobotani ini juga ada topi, bubu atau alat penangkap ikan, tampah, dan beraneka bentuk keranjang yang terbuat dari bahan dasar bambu. Dan benda koleksi yang menjadi primadona Museum Etnobotani Indonesia ini adalah kain kafan yang terbuat dari daun pandan.

Museum Etnobotani

Koleksi Barang Museum Etnobotani Bogor

Barang-barang nenek moyang di museum Etnobotani Indonesia

Simpli herbal di Museum Etnobotani

Barang-barang sejarah Museum Etnobotani Indonesia

Kain kafan dari akar kayu

Kain kafan ini amat langka dan tidak digunakan lagi oleh Suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Karena sebagian besar Suku Dayak sudah sejak lama meninggalkan agama leluhurnya.

Perahu dari pohon kapas

Selain benda-benda yang diletakkan di dalam etalase museum Etnobotani ini, juga ada benda-benda koleksi yang sengaja diletakkan di area terbuka. Seperti alat tenun yang terbuat dari kayu. Ada juga luku atau alat yang biasa digunakan para petani untuk membajak sawah. Petani di Pulau Jawa mempercayai bahwa alat luku diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga, setelah sebelumnya mereka hanya menggunakan pacul untuk membajak sawah.

Yang unik sekaligus menarik dari Museum Etnobotani Bogor adalah perahu tradisional yang dibuat dari batang kayu pohon kapas. Perahu kayu ini diperoleh Museum Etnobotani Indonesia dari hibah peneliti dari Jepang.

Di Museum Etnobotani, juga ada  rak yang menampilkan koleksi simplisia herbal atau bahan obat-obatan dari tumbuhan serta buah-buahan. Simplisia herbal itu disimpan dalam botol-botol bening dan tembus pandang. Simplisia herbal adalah tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang menjadi bahan pembuat jamu dan obat-obatan. Sebut saja, daun kumis kucing, temulawak, jahe, daun rembung, dan alang-alang.

Seluruh simplisia herbal yang dipamerkan di Museum Etnobotani ini sudah diawetkan terlebih dahulu. Ada dua jenis cara pengawetan yang dilakukan. Pertama, pengawetan kering yang menggunakan oven. Kedua, pengawetan basah yang memakai alkohol. Pengawetan kering sepertinya untuk koleksi tumbuh-tumbuhan. Adapun pengawetan basah terbatas pada sampel buah-buahan.

Dari data informasi yang tertera di setiap benda, seluruh koleksi Museum Etnobotani Bogor ini berasal dari suku-suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Jumlahnya mencapai 20 ribu benda. Berupa alat rumah tangga, alat transportasi, alat pengolah pertanian, perikanan, alat musik, mainan anak hingga sarana upacara adat. Itu belum termasuk 5.118 simplisia herbal.

Melihat kekayaan koleksi di Museum Etnobotani, menunjukkan betapa beragamnya kekayaan alam di Indonesia. Betapa pandainya nenek moyang memanfaatkan sumber daya alam dalam menunjang kehidupan mereka sehari-hari.

Rasanya tidak berlebihan menyebut Museum Etnobotani Bogor sebagai sarana ideal untuk mempelajari nilai-nila tradisi nenek moyang yang teguh menjalankan kehidupan yang selaras dengan alam-alamnya.

Museum Etnobotani Bogor: Sejarah dan Awal Berdiri

Museum Etnobotani Indonesia atau Etnobotani Bogor ini diresmikan oleh Bj. Habibie ketika menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, 18 Mei 1982. Peresmiannya bertepatan dengan hari ulang tahun Kebun Raya Bogor yang ke 165.

Gagasan mendirikan Museum Etnobotani ini berasal dari Prof. Sarwono Prawirohardjo, Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang LIPI). Sarwono menyampaikan gagasannya saat peletakan batu pertama pembangunan Herbarium Bogoriense, tahun 1962.

Ketika itu, Sarwono menyadari akan pentingnya sebuah museum untuk menyimpan sekaligus melestarikan teknologi dan ilmu pengetahuan lokal dari seluruh suku yang ada di Indonesia. Pada 1973, diadakan sebuah lokakaryadi Puslitbang Biologi yang dihadri oleh para ilmuwan dari bidang pertanian, Antropologi, kemasyarakatan, biologi, dan meseumologi untuk mematangkan konsep Museum Etnobotani Indonesia.

Istilah Etnobotani yang digunakan sebagai nama dari Museum Etnobotani ini diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1895 oleh seorang antrolopolog Amerika, Harshberger. Etnobotani merupakan cabang dari Ilmu Pertania yang mempelajari tentang tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, pakaian, perkakas, dan bangunan, serta sesaji dalam upacara adat. Dan secara etimologi, etnobotani berasal dari kata ‘etno’ yang berarti bangsa dan ‘botani’ ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan.

Pada awalnya, museum Etnobotani hanya memiliki sekitar 2 ribu benda-benda yang dikumpulkan oleh para peneliti LIPI. Koleksi ini semakin bertambah setelah PT. Eisai, mitra kerja LIPI dari Jepang yang berkonsentrasi pada eksplorasi tumbuh-tumbuhan di Indonesia, menghibahkan berbagai koleksinya pada tahun 2006.

Koleksi itu berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Penempatan benda-benda yang dipamerkan di Museum Etnobotani bukan dibagi berdasarkan wilayah asal benda. Namun, penempatannya berdasarkan jenis tumbuhan dan kegunaannya.

Museum Etnobotani & Letak Museum

Letak Museum Etnobotani Indonesia hanya seperlemparan batu dari halaman atau pintu belakang Istana Bogor. Dari Istana Bogor, untuk mencapai museum ini, paling lama hanya 5 menit dengan berjalan kaki. Museum Etnobotani berada di sebelah gedung berlantai lima yang letaknya ada di samping Herbarium Bogoriense. Bangunan gedungnya sudah tua. Catnya pudar dan kusam. Terkesan tidak terawat. Dari keseluruhan 5 lantai yang ada, hanya lantai dasar saja yang difungsikan menjadi museum Etnobotani.

Pintu  masuk museum ini sebenarnya terletak di Jalan Kantor Batu. Namun, karena pintu gerbangnya ditutup, harus masuk melalui pintu Puslitbang Biologi LIPI di Jalan Djuanda No. 22-24.

Itu pun harus menyusuri jalan setapak kecil sepanjang 50 meter dari pintu gerbang utama. Tak ada petunjuk jalan yang mengarahkan pengunjung ke Museum Etnobotani. Seperti Kebun Raya Bogor, Museum Etnobotani Indonesia ini juga berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebenarnya untuk mencapai Museum Etnobotani cukup mudah. Dari Baranangsiang dibutuhkan waktu sekitar 5 menit saja!

Demikianlah informasi mengenai Museum Etnobotani Bogor: Corak Kehidupan Nenek Moyang. Semoga bermanfaat :-)

Artikel Bahasa Indonesia lainnya mengenai:

TwitterFacebookGoogle+Blogger PostWordPressTumblrBagikan
tags: , ,