Home » Artikel Lingkungan » Sawah Apung: Seni Bercocok Tanam Anti Banjir

Sawah Apung: Seni Bercocok Tanam Anti Banjir

Thursday, March 28th 2013. | Artikel Lingkungan


Sawah Apung: Seni Bercocok Tanam Anti Banjir

Teknologi sawah apung barangkali masih jarang terdengar karena sebagian besar para petani masih menggunakan teknik bercocok tanam cara konvensional diatas ladang dan sawah. Munculnya, teknik bercocok tanam model sawah apung ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan akan turunnya hujan pada tahun – tahun belakangan yang menyebabkan banjir sehingga mengganggu proses panen para petani. Belum lagi imbas dari banjir yang kerap menggenangi sawah dan ladang hingga berbulan-bulan.

Sawah apung mulai terlihat di daerah Padaherang, Kalipucang yang ratusan hektar sawahnya seringkali terkena banjir akibat tidak menentunya cuaca saat ini. Terobosan baru dalam dunia pertanian ini mulai mendapat perhatian untuk terus dikembangkan lebih lanjut karena selain memiliki keunggulan terhindar dari banjir, para petani juga dapat menanam padi setiap tahun dengan jumlah panen yang lebih banyak karena petani dapat memanen 5-6x dalam setahun. Hal tersebut diungkapkan oleh Dede Saeful Uyun, Camat Padaherang, Kabupaten Ciamis.

Dengan adanya teknologi Sawah Apung, para petani dapat melipatgandakan penghasilannya melalui ternak mina ikan. Hal tersebut dapat dilakukan pada area sekitar sawah apung.

Sawah Apung: Seni Bercocok Tanam Anti Banjir

Teknologi Sawah Apung yang disebutkan pertama kali di kembangkan oleh Taruna Tani Mekar Bayu Desa Ciganjeng yang bekerja sama dengan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu menggunakan media rakit yang diberi sabut kelapa, jerami serta tanah. Hal tersebut yang membedakan teknologi Dengan demikian bibit padi ditanam diatas rakit tersebut sehingga petani dapat menanam dengan aman tanpa harus khawatir oleh ketinggian banjir yang seringkali melanda desa tersebut pada tahun – tahun terakhir.

Perbedaan sawah apung adalah pada saat panen dimana hasil panen akan terlebih dahulu dibawa ke darat baru kemudian disabit / potong. Berhubung masih dalam pengembangan, cara bercocok tanam ala sawah apung ini baru seluas 10 bata.

Sawah Apung & Tantangannya

Teknologi sawah apung ini masih sangat baru dan belum dikenal secara meluas sehingga menurut Dede, mengubah pola pikir para petani untuk menggeser cara bercocok tanam konvensional ke teknologi sawah apung memerlukan waktu. Kendati demikian, menurut Tahmo Cahyono selaku Kepala Tarunma Mekar Bayu Desa Ciganjeng, terobosan yang dilakukannya ini sempat mendapat cemohan dan keraguan dari masyarakat. Namun perlahan-lahan masyarakat setempat mulai mengikuti dan mengembangkan cara bercocok tanam sawah apung ini. Diharapkan agar kedepannya cara bercocok tanam seperti ini dapat diikuti oleh petani – petani lainnya.

sawah apung

Demikianlah informasi mengenai Sawah Apung: Seni Bercocok Tanam Anti Banjir. Semoga bermanfaat :-)

Artikel Bahasa Indonesia lainnya mengenai:

TwitterFacebookGoogle+Blogger PostWordPressTumblrBagikan
tags: , ,


200 OK

OK

The server encountered an internal error or misconfiguration and was unable to complete your request.

Please contact the server administrator, webmaster@artikelbahasaindonesia.org and inform them of the time the error occurred, and anything you might have done that may have caused the error.

More information about this error may be available in the server error log.

Additionally, a 500 Internal Server Error error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.